Info Pendidikan Indonesia>

Kepo, Ancaman Baru bagi Si Kritis dan Si Empati



Kepo merupakan akronim dari Knowing every Particular Object.
Kepo merupakan akronim dari Knowing every Particular Object./pixabay.com

Kepo merupakan salah satu istilah kekinian yang rasanya mulai menjebak remaja ke dalam situasi individualisme. Sebagai seorang yang pernah menjadi guru SMP, saya pernah melakukan pengamatan terhadap perkembangan bahasa prokem yang digunakan oleh siswa.

Siswa merasa lebih eksis ketika menggunakan bahasa gaul dalam persinggungan sehari-hari dengan teman-temannya. Istilah kepo sering digunakan tidak pada konteksnya. Hal tersebut ternyata memunculkan ancaman terhadap kemajuan berpikir kritis dan merampas kepedulian terhadap sesama.

Kok bisa kepo jadi tukang ancam? Kepoin aja yuks!

1. Apaan sih Kepo itu?

Kepo merupakan akronim dari Knowing every Particular Object. Kepo merupakan sebutan bagi orang yang serba tahu rincian detail dari sesuatu. Dalam kasus tertentu, kepo diartikan sebagai orang yang sok tahu dan selalu ingin tahu urusan orang lain. Kepo secara umum digunakan untuk mencegah seseorang mencampuri urusan orang lain.

2. Ancaman bagi Si Kritis

Remaja memiliki kecenderungan yang sangat tinggi untuk mengetahui segala sesuatu. Rasa penasaran itu meliputi tentang apa anggapan teman pada dirinya, apa yang terjadi dengan gebetannya, apa yang terjadi pada artis-artis idolnya, dan sebagainya. Hal tersebut wajar terjadi pada masa puber remaja. Usia ini merupakan peralihan dari kanak-kanak menuju dewasa.

Remaja memiliki kecenderungan lebih tertarik mengetahui sesuatu yang terkesan glamour. Eksistensialisme telah menjadi trend atau gaya baru dalam kehidupan modern. Urusan pribadi dijadikan konsumsi publik, jadi tidak perlu dikepoin karena sudah terumbar di media sosial.

Remaja memiliki kecenderungan yang sangat tinggi untuk mengetahui segala sesuatu.
Remaja memiliki kecenderungan yang sangat tinggi untuk mengetahui segala sesuatu./pixabay.com

Teman sebaya pada usia remaja memegang peranan penting. Hal itulah yang menyebabkan mengapa eksistensi dan tekanan dari teman sebaya menjadi sesuatu yang serius pula. Seorang remaja akan memperhitungkan secara saksama penilaian teman terhadap dirinya. Di sinilah kepo mulai memiliki kekuatan untuk mengintimidasi korbannya. Seorang remaja akan bertindak sebisa mungkin untuk menjauhkan dirinya dari cap kepo oleh teman-temannya. Sikap kepo dianggap tidak patut dan tercela.

Kepo menjadi tidak pantas dilakukan ketika sesuatu yang ingin diketahui adalah hal yang bersifat pribadi, semisal;

Susi : Nit, denger-denger orang tuamu mau cerai, ya?
Nita : Kepo,Lu!

Jawaban Nita merupakan jawaban yang tepat karena persoalan yang ditanyakan merupakan urusan pribadi orang lain, terlebih urusan orang dewasa.

Kapan kepo mulai mengancam orang-orang yang berpikir kritis? Simak contoh dialog berikut!

( Ibu Guru sedang menjelaskan materi pelajaran,kemudian seorang siswa bertanya.)
Dewi : Bu, dalam hal apa saja soal matematika ini dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari?
Viony : Kepo banget sih, lu!
Bu Guru: Menurut pendapatmu apa,Viony?
Viony : Tidak tahu, Bu.

Istilah kepo yang diungkapkan Viony terhadap Dewi tidak sesuai konteks. Dewi sedang berusaha kritis terhadap peranan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Sikap kritis Dewi ini akan semakin terkikis atau bahkan tenggelam ketika Viony tidak berhenti menyebutnya kepo. Sekilas situasi dalam percakapan tersebut tampak wajar, akan tetapi perlu kembali dicermati bahwa pada usia remaja penilaian teman sebaya menjadi faktor penting terhadap individu menilai dirinya sendiri. Penilaian tersebut lambat-laun membentuk sikap dalam menghadapi situasi kondisi tertentu sekaligus dalam urusan mengambil keputusan dan tindakan.

3. Ancaman bagi Si Empati

Empati termasuk kemampuan untuk merasakan keadaan emosional orang lain, merasa simpatik dan mencoba menyelesaikan masalah, dan mengambil perspektif orang lain ( Wikipedia ). Empati pada remaja lama kelamaan dapat tergerus habis karena memasuki wilayah pribadi tanpa permisi atau karena dianggap kepo oleh pihak lain.

Sekadar contoh situasi;

Femi : Sebenarnya apa sih yang terjadi pada Rendy? Dia sering bolos sekolah.
Tika : ( menangis tersedu-sedu), kalau sampai Rendy kena hukuman gimana?
Femi : Ya dia harus berani tanggung jawab.
Tika : Nggak, Fem. Rendy ga boleh dihukum. Kita harus cari tahu alasan dia bolos sekolah.
Femi : Kepoin Rendy? Emang kita detektif apa?
Tika : ( histeris ), dia kan teman sekelas kita, masak dia dihukum kamu cuek aja!
Femi : Tika ga usah alay deh…,

Sikap kepo bisa jadi menimbulkan rasa empati yang berlebihan. Empati yang tidak wajar justru berbahaya karena didalamnya terdapat faktor-faktor x yang mendukung. Faktor x itu bisa berupa ketidak tulusan, mengharap perhatian dan pamrih, atau justru perasaan ketertarikan maupun kebencian yang disembunyikan.

Lukas : ( merinding, badan panas)
Intan : Kamu kenapa, Lukas?
Reda : Ihh,Intan kepo!
Intan : ( memegang dahi Lukas), beneran badannya panas. Ayo  kuantar ke UKS!
Reda : Ciieee…ciiee… sok perhatian amat.
Intan : Terserah kamu lah, Reda. Aku hanya berusaha peduli pada teman. Dia benar-benar sakit. Kamu saja yang ngurus dia!

Intan memiliki kepekaan dan empati tinggi terhadap teman yang sedang sakit. Namun sikap Reda yang menuduh Intan kepo dan sok perhatian akan menggoyahkan niat tulusnya ketika Intan tidak memiliki karakter kuat. Apalagi bila teman-teman yang lain pun mengatakan hal yang sama dengan Reda.

sikap penuh kasih, sikap empati merupakan hasil pendidikan karakter sejak dini
sikap penuh kasih, sikap empati merupakan hasil pendidikan karakter sejak dini/pixabay.com

Karakter umumnya dikaitkan dengan perwatakan seseorang. Watak dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai sifat batin manusia yang memengaruhi segenap pikiran dan tingkah laku, budi pekerti, tabiat. Menurut Drs. Hanna Djumhana Bastaman, M.Psi dalam Soemarno Soedarsono (2008:15) menyebutkan bahwa karakter merupakan aktualisasi potensi diri dari dalam dan internalisasi dari luar menjadi bagian kepribadiannya. Ahli psikoanalisa Sigmund Freud menyebutkan bahwa Character is a striving system wich underly behaviour, yakni karakter adalah sebuah sistem usaha yang mendasari sikap tingkah laku.

Remaja dengan karakter unggul yang kuat tidak akan menerima begitu saja tekanan atau pengaruh dari teman sebaya atau lingkungan sekitar. Namun ternyata hal ini cukup sulit mengingat usia remaja adalah usia galau, sepi, kebingungan, dan temperamental. Sikap sosial yang tinggi, sikap penuh kasih, sikap empati bukanlah sikap yang serta merta muncul pada remaja namun merupakan hasil pendidikan karakter sejak dini. Kemudian permasalahan yang timbul adalah goyahnya sikap-sikap positif yang telah dimiliki anak tersebut ketika ia menginjak masa remaja.

Kategori remaja pada seseorang ditandai dengan perubahan secara fisik dan psikis yang mengalami proses menuju kematangan. Usia remaja dimulai ketika seseorang menginjak usia 12 tahun sampai 22 tahun. Anak laki-laki dan perempuan bebas dan nyaman bermain bersama-sama. Akan tetapi, ketika mereka menginjak usia remaja, rasa canggung dan ketertarikan dengan lawan jenis mulai muncul. Pada masa peralihan inilah banyak hal mulai dirahasiakan, sikap empati yang berlebihan, dan sikap kepo mulai mendominasi hari-hari mereka.

Remaja menyukai rahasia dan mereka membagi rahasia dengan teman sebayanya. Pada usia ini secara psikologis remaja mengalami masa kesepian, merasa membutuhkan teman yang berempati, dapat memahami, dan teman yang dapat turut merasakan suka dukanya. Pada masa rawan ini remaja tanpa pendidikan, pola asuh yang baik, dan nilai-nilai norma yang kuat akan mudah terjerumus pada hal negatif. Di sinilah pentingnya berkepo ria untuk hal-hal yang positif.



3 Articles
Ibu rumah tangga yang masih setia dengan dunia pendidikan. Pernah aktif di Seni Teater, pecinta buku, suka menulis di sela-sela kesibukan mengurus anak.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*